Itu tadi suara bapak pegawai rektorat kampus Punyk yang bisa dibilang lagi kurang 'penggawean' alias kurang kerjaan. Sore-sore begini yang seharusnya enak banget dibuat ngopi atau ngeteh di teras rumah bareng bini' tercinte, eeehh...malah dipake tes atu dua alih-alih ngecek toa kampus buat acara PPAK. Dan tiga menit kemudian suara itu hilang.Good, boy.
Okay, topik pembicaraan kita masih sama kaya kemarin, tentang Pengkajian dan Penciptaan di Jurusan Tari. Dua hal ini bakal ditemui oleh seluuuuurrruuuuuhhh mahasiswa, mau FSR kek, FSP kek, FSMR kek, yang penting dan yang pasti selama tuh orang terdaftar sebagai mahasiswa ISI, mau nggak mau suka nggak suka sunnah nggak sunnah, wajib buat milih antara pengkajian atau penciptaan, titik. Udah dua tahun dilewati sejak Punyk resmi jadi mahasiswa tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta , udah tiga hari sejak 'pemilihan umum' besar-besaran itu dilakukan dan udah hampir tiga jam Punyk duduk di bangku khusus para wifi-ers rektorat kampus. Walhasil, my bottom is kliyeng-kliyeng. Maunya sih nulis bahan tentang tari, tapi di otak adanya es krim Mc Donald sejak tiga jam yang lalu. Makasih deh.
Memutusan untuk memilih pengkajian atau penciptaan tari bukan suatu urusan yang gampang menurut Punyk pribadi. Kenapa? Ibarat kita milih capres dan cawapres aja deh, kalo kita milihnya asal-asalan yang ada kaya lagunya Armada 'mau dibaaaawaaa kemanaaaa, negara kitaaaaaa...' Sama aja kaya milih urusan yang satu ini, you make a wrong decision, you'll take a risk all night long! Ini bukan urusan 'gue milih penciptaan karena temen-temen gue bakal jadi koreografer handal kalo masuk penciptaaaaaaann...' Nice. Ngerengek aja terus! Keputusan diambil berdasarkan pikiran jernih dan hati yang tenang. Selebihnya, tekad yang kuat akan nuntun kita sampai pada tujuan. Milih pengkajian bukan berarti kamu nggak bakal bisa jadi koreografer kok! Easy.
"Setiap kenyataan pasti ga pernah sesuai dengan harapan, setiap kesempatan pastilah jadi pilihan. Dan setiap kekuatan dan tekad yang kuat, pasti berhujung pada kenyataan"
Kurang lebihnya gitu deh...
Pengkajian tari dimata anak-anak kampus adalah mereka yang pasif, nggak kreatif dan kutu buku. Teman-teman pengkajian juga nggak pernah lepas dari imej 'ketubuhan minus'. Mereka dianggap nggak bisa bergerak selincah teman-teman penciptaan, kurang imajinatif, kurang pinter bergaul, nggak pinter 'ngomong' dan masih banyak imej-imej lainnya. Character assassination banget aaahhhh!!!! Emang sih, mata kuliah teori pengkajian lebih banyak dibanding penciptaan yang kenyataannya mata kuliah praktek mereka bak menu utama di restoran kelas atas. Tapi bukan berarti dengan banyaknya kelas praktek, mereka nggak mengenal 'teori' selama-lamanya. Hei-hooooo???!!!! Dan nggak mesti juga kalo anak-anak yang teoritis nggak bisa menekuni ilmu practice'. Di dalam ilmu, masih dan pasti ada ilmu.
Ambil sisi positifnya dan bersikap netral. Memilih pengkajian bukan akhir dari segala-galanya, dan memilih penciptaan bukan berarti tidak perlu belajar teori seperti yang temen-temen pengkajian lakukan. Seperti shalat sunnah dan wajib. Ketika kita menjalankan kewajiban, alangkah baiknya kalau diiringi dengan sunnahnya, begitu juga dengan problem ini. Kita telah memilih apa yang menjadi tanggung jawab kita kela, baik itu penciptaan ataupun pengkajian. Contoh gampangnya Punyk yang sudah memilih pengkajian. Alangkah baiknya jika membuka diri menerima ilmu 'penciptaan' secara tidak langsung. Begitu juga dengan teman-teman penciptaan, jangan mengenyampingkan teori dalam hal praktek!
PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN!!!
(Fyi, ini tuh jargon ISI Yk yang paling keren seantero Bantul)
(Fyi, ini tuh jargon ISI Yk yang paling keren seantero Bantul)
No comments:
Post a Comment